Senin, 23 Mei 2016

Model 10

RAGA
PENDAHULUAN
Homerus, penyair besar Yunani, menggubah syair “peperangan-peperangan” diantara dewa-dewa. Dan, pusat dari seluruh dewa-dewa itu adalah dewa besar, yaitu Apollo[1]. Dewa besar, menunjukkan bahwasanya kepercayaan beragama telah ada semenjak peradaban manusia. Hal ini dipengaruhi oleh perasaan tentang adanya Yang Ada. Perenungan tentang perasaan bahwa ada sesuatu yang menguasai alam ini mengantarkan filsuf untuk sampai pada Yang mutlak. Dialah Yang Maha Kuasa, Akal pertama, Dialah puncak dan puncaknya menurut Plato adalah ideal; Dialah Tao, yang menurut Lao Tze, tak dapat diberi nama[2].
Filsafat Yunani kemudian berkembang ke arah kosmologi; filsafat alam. Terma kosmos, atau yang ada atau al-Koon merujuk pada benda, gerak, ruang-waktu, struktur, undang-undang (natuurwet) dan pengaturnya[3]. Pertanyaan yang mengemuka kala itu berkaitan dengan arche alam, apa sebenarnya bahan alam semesta itu?. Jawaban dari pertanyaan ini dimulai oleh Thales, yang berpendapat bahwa asal dari segala sesuatu adalah air. Diikuti oleh Anaximander yang mengatakan asal dari segala adalah Aperion. Anaximenes berpendapat bahwa asal segala benda adalah udara. Dan Phytagoras menyampaikan bahwasanya bilangan mengatur alam semesta, dan pokok segala bilangan adalah satu[4].
Filsafat alam kemudian dikembalikan oleh Socrates kepada filsafat diri. Melalui ungkapan “kenalilah dirimu, kenalilah dirimu…” Socrates membangunkan kesadaran manusia untuk terbuka pada kebenaran, mencintai kebijaksanaan, menghargai prinsip hidup, berani melawan arus untuk sampai pada hulu kebenaran. Socrates mengajak manusia untuk mengenali diri sendiri sebagai manusia yang sesungguhnya. Prinsip tersebut, mendorong Socrates tetap tegar menghadapi vonis mati, meski ia merasa tidak bersalah dan terbuka peluang melarikan diri dari hukuman. Apa yang paling layak untuk hidup, layak pula untuk mati.[5]
                Alangkah besar dan hebatnya rahasia diri, sedemikian hingga kalangan sufi memiliki kredo “Siapapun yang mengenal dirinya, niscaya kenallah ia akan Tuhannya”. Di setiap jaman, manusia memiliki pertanyaan tentang siapa sejatinya dirinya. Fisik jasadnya atau sesuatu yang ada pada tubuh kasarnya itu?
 JASMANI MANUSIA
Aku telah ada di dunia ini. Siapakah aku, dari mana datangku?[6] Pertanyaan tersebut, dapat dikatakan sebagai permasalahan asasi manusia. Masalah manusia adalah yang terpenting dari semua masalah. Jauh masa sebelum Darwin, Anaximander (610-545 SM) telah mengembangkan sebuah teori adapatasi dengan lingkungan[7]. Aristoteles (384-322 SM) mendefinisikan manusia sebagai binatang berakal sehat yang mampu berpendapat dan berbicara berdasarkan pikirannya. Manusia juga binatang yang berpolitik (political animal by nature) dan binatang yang bersosial (organized society)[8]. Charles Darwin (1809-1882) menetapkan manusia sejajar dengan segala sesuatu yang hidup, karena terjadinya manusia dari sebab-sebab mekanis, yaitu lewat teori descendensi (keturunan) dan teori natural selection (teori pilihan alam), populer dengan istilah “survival of the fittest”[9].
Manusia adalah suatu alam kecil di dalam alam yang besar. Ibnu Sina (980-1037) berusaha menghadirkan gambaran utuh tentang realitas melalui pertimbangan cara pikiran manusia bekerja. Kemanapun manusia memandang, manusia akan melihat wujud-wujud senyawa yang terdiri atas-unsur-unsur yang berbeda. Unsur-unsur sederhana menjadi primer dan wujud senyawa menjadi sekunder bagi manusia. Ketika manusia mencoba untuk mengerti sesuatu, manusia akan memecah sesuatu tersebut ke dalam bagian-bagian kecil sehinngga tak ada lagi pembagian yang mungkin. Sebuah pohon misalnya, terdiri atas batang kayu, kulit kayu, akar dan daun. Batang kayu terdiri atas cabang dan ranting yang masing-masing memuat xylem dan floem. Demikian seterusnya[10].
Demikian halnya dengan ralitas manusia. Kisah kejadian Adam, yakni kisah kejadian manusia pertama, disampaikan secara simbolis dalam Al-Qur’an kitab suci. Kejadian itu bermula saat Allah swt berfirman[11] kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Betapa luhurnya nilai manusia sedemikian hingga Tuhan Allah memperkenalkan manusia selaku khalifah kepada malaikat. Khalifah dapat bermakna pengganti, pemimpin atau penguasa.
Tubuh manusia modern sama kejadiannya dengan manusia pertama, Adam, berasal dari saripati tanah. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia[12]. Bahkan tubuh manusia dapat dikatakan sama kejadiannya dengan benda lain di alam ini. Benda-benda di alam ini diyakini memiliki unsur dari api, angin, air, dan tanah. Lebih halus lagi hewan; serangga, mamalia, vertebrata dan tumbuhan; pohon, bunga, rumput, jamur serta segala benda hidup terdiri atas susunan bermilyar sel. Setiap sel berasal dari persenyawaan karbon, hydrogen, nitrogen, dan oksigen. Diperhalus lagi, persenyawaan dari seratusan unsur yang telah dikenal manusia. Lebih halus lagi raga manusia dan juga benda-benda di dunia berasal dari  atom; pertemuan proton, neutron dan electron. Peredaran proton, neutron dan electron dalam lingkungan atom, sama aturannya dengan peredaran planet mengelilingi matahari, sama kejadiannya dengan peredara tata surya mengelilingi galaksi. Demikianlah, kejadian manusia dapat dikiaskan dengan kejadian alam semesta.
Semua manusia bukan hanya sama; mereka bersaudara. Bagaimanapun aneka ragamnya, manusia berasal dari ibu-bapak yang sama dan bermula dari sumber yang satu. Gambaran umum tentang proses penciptaan manusia, dapat dipelajari dari firman Allah dalam Al-Qur’an. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani[13]. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (Rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan[14]. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik[15].
Apabila kita pelajari redaksi kata yang dipergunakan Al-Qur’an dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia maka al-Qur’an lebih sering menggunakan redaksi  “khalaqa” dari pada “ja’ala”. Kata “khalaqa” mengandung pengertian mencipta, baik ciptaan tersebut telah ada yang serupa sebelumnya maupun belum ada sebelumnya (creation ex nihilo). Sedangkan kata “ja’ala” berarti menjadikan dari sesuatu dari sesuatu yang lain. Dengan demikian lafadz “khalaqa” memberikan penekanan tentang kebesaran atau keagungan Allah dan kehebatan ciptaan-Nya, sedangkan “ja’ala” mengandung penekanan terhadap manfaat yang harus atau dapat diperoleh dari sesuatu yang dijadikan itu[16].
Firman Allah dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwasanya tubuh manusia berasal dari tanah (thin, turab atau al-ardl). Kata thin dan turab, memiliki makna yaitu tanah yang mengandung air, dari sinilah tumbuh segala tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan. Intisari makanan tersebut sebagiannya akan membentuk spermatozoa, yakni sel mani (ma’in mahin/ air yang hina) yang apabila menyatu ke dalam sel telur akan menjadikan pembuahan. Sari pati tanah ini kemudian berkembang melalui tahapan; (1)nuthfah; (2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting; (4)’idhaman (tulang); dan (5)lahm (daging). Tahapan-tahapan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, tahap nuthfah. Tahap atau periode ini biasa dinamakan “periode ovulasi” dimana terjadi pertemuan/penyatuan antara sel kelamin laki-laki (sperma) dan sel kelamin perempuan (ovum) yang kemudian membentuk zat baru dalam rahim ibu (fii qaraarin makiin). Pertemuan antara kedua sel tersebut dalam al-Qur’an disebut “nuthfatin amsaj”, yakni percampuran air mani laki-laki dan sel telur perempuan, melalui suatu proses “ma’in da-fiq” atau air yang terpancar ketika berkumpul (bersenggama). Tahap nuthfah ini terjadi selama 40 hari[17].
Kedua, tahap ‘alaqah  yang  diterjemahkan dengan segumpal darah atau darah yang membeku. Sementara ahli menyatakan bahwa terjemahan yang tepat untuk ‘alaqah’ adalah “sesuatu yang melekat”, dan ini sesuai dengan penemuan sains moderen, dimana setelah terjadi proses pembuahan, bakal janin akan berdempet serta masuk ke dinding uterus rahim, inilah yang kemudian disebut periode ‘alaqah’. Lama waktu tahap alaqah sama halnya dengan tahap nuthfah[18].
Ketiga, tahap mudlghah, yakni sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran. Mudlghah inilah yang dalam perkembangan selanjutnya membentuk organ-organ tubuh lain. Lama waktu tahap mudlghah sama halnya dengan tahap nuthfah[19]. Tahap keempat dan kelima yaitu ‘idhaman (tulang) dan lahm (daging) dibentuk dari elemen-elemen atau bahan-bahan yang terdapat dalam mudlghah.
Setelah itu Allah menjadikannya makhluk yang berbentuk lain (tsumma ansya’naahu khalqan akhar), yakni tak sekedar fisik/materi/jasad/raga tetapi juga dilengkapi dengan aspek non-fisik/immateri. Terjadinya makhluk yang berbentuk lain adalah dengan ditusnya malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam jasad[20].
Demikianlah, secara umum manusia terdiri atas dua komponen; biologis (raga) dan Ruhani. Raga manusia, berasala dari saripati tanah yang berevolusi melalui tahapan nuthfah, alaqah, mudghah, idhaman, lahm. Tahapan itu terjadi di dalam rahim. Jadi, raga manusia tidak terjadi dengan  sendirinya. Tahap berlanjut dengan ditiupkannya ruh, sehingga janin bakal manusia itu hidup.
Demikianlah bahwa hakekat manusia itu terdiri dari dua komponen penting, yaitu;
a)      Komponen jasad. komponen ini berasal dari alam ciptaan yang mempunyai bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad dan terdiri atas organ. Sifat jasad yang merupakan komponen materi manusia yang ada dalam bumi ini yaiu, dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan ini tidak berbeda dengan benda-benda lain.
b)      Komponen jiwa. Mempunyai sifat berbeda dengan jasad manusia. Hal ini karena jiwa merupakan roh dari perintah Tuhan walaupun tidak menyamai Dzat-Nya. Jiwa merupakan unsur rohani yang dapat berfikir, mengingat, mengetahui, dan sebagainya. unsur jiwa adalah penggerak bagi jasad untuk melakukan kerjanya.
Terdapat satu unsur lagi disamping unsur jasad dan jiwa, yaiu unsur hayah (unsur hidup). Satu sel sperma (air yang hina) harus melakukan perjuangan dengan mengalahkan berjuta sel sperma lain untuk dapat membuahi satu sel ovum. Padahal sperma itu telah keluar dari jasad. Tentunya spermaitu hidup (hayah) Jadi hayah bukan komponen jasmanai yang berasal dari tanah dan bukan pula komponen jiwa atau rohani yang ditiupkan oleh Allah. Hayah itulah yang kita kenal dengan terma nyawa[21].
Dengan demikian, ketika membahas manusia, tak dapatlah kita berpaham materialis an sich  dan atau sebaliknya, idealisme murni.  Tenyata, manusia tidak terbentuk atas satu unsur (monism) atau dua unsur (dualism). Ternyata manusia tersusun atas beragam unsur (pluralism). Pada waktu membahas raga, kita tidak dapat terlepas dari unsur yang lain jiwa dan nyawa. Akan tetapi unsur-unsur tersebut menyatu, sehingga dapatlah dikatakan bahwa manusia itu monopluralism.
RAGA DALAM MATEMATIKA
                Pembelajaran matematika pada dasarnya adalah proses mengembangkan kemampuan siswa yang berhubungan dengan pencapaian hasil belajar objek-objek matematika. Objek tersebut dapat berupa objek langsung maupun objek tak langsung.
Objek langsung matematika menurut Robert M. Gagne terdiri atas fakta, konsep, prinsip, dan skill (keterampilan)[22]. fakta adalah konvensi (kesepakatan) dari para matematikawan seperti lambang, notasi, ataupun aturan. konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh. Prinsip (keterkaitan antar konsep) adalah suatu pernyataan yang memuat hubungan. antara dua konsep atau lebih. Keterampilan (skill) adalah kemampuan untuk menggunakan prosedur atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Belah ketupat merupakan contoh dari konsep di dalam matematika. Dengan komunikasi verbal, ‘belah ketupat didefinisikan dengan segiempat yang panjang atau ukuran keempat sisinya adalah sama.’ Akan tetapi, konsep tersebut akan lambat dipahami siswa jika tidak disertai dengan gambar. Untuk itulah perlu disajikan gambar (peraga)agar siswa dapat menentukan apakah bangun yang dimaksud merupakan contoh ‘belah ketupat’ atau bukan.
Gambar 1: Segi empat
Keberadaan alat peraga menjadi penting adanya karena pada dasarnya ada dua proses perkembangan yang saling bertentangan yang terjadi secara serempak, yaitu pertumbuhan (evolusi) dan kemunduran (involusi). Tugas pendidikan adalah membantu murid untuk tumbuh berkembang menuju kemampuan potensial yang dapat ia capai.
Untuk itu proses pembelajaran hendaknya bertingkat/berjenjang. Dimulai dari hal-hal yang mudah, ke yang sedang, baru ke yang sulit. Dimulai dari hal-hal yang sederhana, baru ke yang rumit atau kompleks. Dimulai dari kasus-kasus khusus, baru ke bentuk umum (general). Dimulai dari hal yang konkrit, baru ke abstrak.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran Al-Karim
Bisri Mustofa. 1375 H. Terjemah Arba’in Nawawiyah. -: Menara Kudus
HAMKA. 1971. Pelajaran Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Idzam Fautanu. 2012. Filsafat Ilmu: Teori & Aplikasi. Jakarta: Referensi
Karen Amstrong.2004. Sejarah Tuhan. Bandung:Mizan
Mechikoff, Estes. 2006. A Hystory and philosophy of sport and physical education. New York: McGraw-Hill
M. Quraish Shihab. 2013. Kaidah Tafsir. Tangerang: Lentera Hati
Shadiq dan Tamimudin. 2015. Karakteristik siswa dan teori belajar. Yogyakarta: P4TK Matematika




[1] Hamka. 1971.Pelajaran Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang hal 23
[2] Ibid. Hal 25
[3] Ibid. Hal 30
[4] Idzam Fautanu. 2012. Filsafat Ilmu: Teori & Aplikasi. Jakarta: Referensi Hal 20-22
[5] Ibid. Hal 17
[6] Hamka. Op cit. hal 20
[7] Mechikoff, Estes. 2006. A Hystory and philosophy of sport and physical education. Hal 14
[8] Ibid. hal 55
[9] Ibid hal27
[10] Karen Amstrong.2004. sejarah Tuhan. Bandung:Mizan hal 248
[11] QS Al Baqarah, 2:30. Terjemah diambil dari Syaamil Al Quran. Bandung: Syamil Cipta Media
[12] QS Ali Imron, 3:59
[13] QS Fathir, 35:11
[14] QS Al Mursalat, 77:20-23
[15] QS Al Mu’minun, 23: 12-14
[16] M. Quraish Shihab. 2013. Kaidah Tafsir. Tangerang: Lentera Hati. Hal 133
[17] Bisri Mustofa. 1375 H. Terjemah Arba’in Nawawiyah. -: Menara Kudus. Hal 12
[18] ibid
[19] ibid
[20] ibid
[21] Hamka. Op cit. hal 31
[22]    Shadiq dan Tamimudin. 2015. Karakteristik siswa dan teori belajar. Yogyakarta: P4TK Matematika hal 31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar