JEJAK “NOL”
Oleh:
Dwi Muryanto
Ribuan tahun lalu, manusia menggunakan
jari tangan untuk menjelaskan kuantitas dan hasil penghitungan. Kemudian
peradaban mesir kuno, mensimbolkannya dalam Hieroglif. Pada masa itu, belum
dikenal adanya bilangan Nol/Zero beserta lambang bilangannya. Ratusan tahun
kemudian, manusia mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan
9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Penemuan
angka nol adalah salah satu peristiwa yang paling penting dalam Matematika.
Pencetus angka nol
ialah Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī.
Ia adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi
muslim yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang
Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Ia mengembangkan
angka India dan kemudian memperkenalkan Sistem Penomoran Desimal (sepuluhan).
Kata Nol/Zero oleh beberapa
orang dirasa aneh dan evolusinya bahkan lebih menarik . Kata Nol/Zero bermula
dari kata Arab sifr (صفر ) yang berarti kosong, lowong atau hampa, yang
merupakan terjemah harfiah dari kata Sansekerta sunya yang berarti batal
atau kosong. Shifr ini kemudian ditransliterasikan menjadi zephyr atau Zephyrus
dalam bahasa Latin. Dalam bahasa Latin Zephyrus berarti " angin
barat " ; meskipun kata benda yang lebih tepat untuk Zephyrus
adalah dewa Romawi dari angin barat (setelah dewa Yunani Zephyros). Sejak makna
kata Nol datang, Zephyrus tidak lagi bermakna angin barat, namun menjadi
“hampir ada angin”, “angin sepoi-sepoi”. Kata zephyr bertahan dengan makna ini
diInggris saat ini .
Fibonacci ( C.1170-1250 )
matematikawan Italia, yang dibesarkan di Arab Afrika Utara disinyalir sebagai
orang yang memperkenalkan sistem desimal Arab ke Eropa menggunakan terma zephyrum.
Kata ini menjadi Zefiro di Italia, yang berubah menjadi Zero
dalam dialek Venetian , yang pada akhirnya memberikan kata Zero dalam bahasa
Inggris modern.
Pada era modern, penggunaan
bilangan nol dan lambang bilangannya telah menyusup jauh ke dalam sendi
kehidupan manusia. Sistem berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran
bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu terkadang membuat kekacauan logika.
Nol, penyebab komputer macet
Bilangan nol itu secara
intuitif mewakili sesuatu yang tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol.
Siapa yang tidak bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam pelajaran
Matematika selalu ada ide yang aneh. Seperti ide jika sesuatu yang ada
dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. Mungkinkah 5×0 menjadi tidak ada?.
Ide ini membuat orang frustrasi. Apakah nol ahli sulap?
Aturan lain tentang nol yang
juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak didefinisikan.
Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak bisa dibagi dengan nol. Komputer yang
canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan pembagi
angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti berpikir jika bertemu sang
divisor nol.
NAMA PERIODE
|
TAHUN
|
KETERANGAN
|
Babylonia, Mesir Kuno, Amerika Kuno
|
3000 – 601 SM
|
Babylonia : Basis 60, belum memiliki symbol 0
Mesir Kuno: Hieroglif, belum memiliki symbol 0
|
Yunani, Cina dan Romawi
|
600 SM – 499 M
|
|
Hindu dan Persia
|
500 – 1199 M
|
Hindu : Sexadesimal, belum memiliki symbol 0
|
Transisi
|
1200 – 1599 M
|
Sistem numeral Hindu-Arab. Mulai ada symbol 0
|
Age of reason
|
1600 – 1699 M
|
|
Awal Modern
|
1700 – 1799 M
|
Metrik sistem
|
Modern
|
1800 – Sekarang
|
Era komputer
|
Bilangan cacah disusun
berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal adalah bilangan
nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang lebih besar di
sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke
kanan akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat hierarki (dan
birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju
angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga.
Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini
bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar
terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?
Jika seseorang berangkat dari
nol, ia tidak mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu
bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan
seseorang bisa berangkat dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah
titik nol sesuatu titik yang tidak ada? Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita
lihat lebih jauh.
Bergerak, tetapi diam
Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan
bulat, tetapi juga ada bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan
seterusnya sekuat-kuat kita bisa menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena
sangat kecil tidak bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya
dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat membingungkan karena jika
bilangan tidak terhingga kecilnya dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan
terkecil, Padahal, nol mewakili sesuatu yang tidak ada!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar